Duniaku Duniaku

Duniaku dunia tanpa sempadan. Di sini imaginasi, idea, angan-angan, impian, dan fantasi semuanya bebas. Peri-peri? Kuda unicorn? Ya, semuanya ada di DUNIAKU.

Aku diam dalam gelap
Dengan mata yang kian berat
Tapi tidak ia mahu lelap
Kerana fikiran yang sudah sarat

Sepertinya fikiran ini menjeratku
Membuat aku buntu dan keliru
Ia terasa seperti mahu membunuhku
Setelah lama dia dan diriku berseteru

Aku cuba melepaskan diri dari terus dibelenggu
Mahu berfikiran positif untuk terus maju
Tapi kuatnya fikiranku menjadikan aku terganggu
Membuatkan aku semakin hilang hala tuju

Sudah banyak kali aku memuhasabah diri
Ingin memperbaiki keadaan yang kian memakan diri
Tapi sepertinya aku sudah terlalu jauh dari kawalan sendiri
Membuatkan diriku kian musnah angkara diri sendiri

Hanya padaMu ya Allah aku memohon
Untuk bantu aku menguasai diriku kembali
Kerana aku kini ibarat sebatang pohon
Tidak bergerak...tiada kemajuan...tiada nyali

Aku buntu dan hilang arah
Akan hidupku yang kian payah
Kerana diriku yang semakin lemah
Kerana hatiku yang selalu goyah

Apa yang ku cari dalam hidupku?
Apa yang ku perlu dalam hidupku?
Tiada ku temui dalam sebarang buku
Dan tiada ku temui sepanjang hidupku

Lalu hatiku memberat
Dibebani persoalan yang semakin sarat
Mahu berjuang, tapi terasa tidak larat
Diri seakan-akan semakin terjerat

Adakah sinar untukku di luar sana?
Biar menerangi kelamnya pandanganku
Adakah kekuatan untukku di luar sana?
Biar menemani lemahnya tekadku

Di mana harus ku cari bahagia?
Apa ia ada antara kita?
Di mana harus ku cari jaya?
Apa ia ada antara kita?

Semoga Allah berikan kepadaku kekuatan
Menentang rasa putus asa hasil hasutan syaitan
Kembali ke jalanNya yang pasti dipenuhi dengan keberkatan
Dan akhirnya akan ku perolehi kejayaan, yang kilauannya bak intan

Ku mencintaimu lebih dari apa pun...

Meskipun tiada satu orang pun yang tahu

Ku mencintaimu sedalam-dalam hatiku

Meskipun engkau hanya kekasih gelapku...


Tidak kira walau berapa kali pun aku memandangmu, rasa itu akan tetap ada. Rasa yang bersemi tanpa mengira musim. Gembira yang sentiasa bersemi di setiap kehadiranmu. Hatiku menari liar seiring dengan merdunya suaramu memanggilku. Sungguh aku tak peduli pada teriakan rasional akalku. Aku tak dapat menghilangkan rasa ini. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu mencintaimu untuk berhenti mencinta...


Lalu sampai bila aku akan terus berada di sini?. Terumbang-ambing di antara dua kutub. Berselimut dusta namun bergelumang cinta. Tapi apakah itu cinta? Ketika kau bukanlah milikku. Aku ternafikan seperti mana cinta ini. Tak bererti. Namun aku masih tak dapat melepasmu.



"Aku tak mampu."

"Apa?"

"Menjadi kekasih gelapmu."

"Aku tak dapat menjadikanmu nyata"

"Jadi, apakah cinta kita maya?"


Ku kenali dirinya saat hujan lebat membasahi keringnya Kuala Lumpur. Dingin, namun kehangatan auranya menyelimutiku. Senyumannya, begitu hangat. Dan sejak saat itu, dia adalah matahariku...dan aku, adalah bunga matahari. Bunga yang akan selamanya memandang ke arah matahari itu. Lalu, apakah matahari itu juga memandangku? Atau ia turut menyinari bunga-bunga lain selain aku? Kerana sejujurnya, aku telah jatuh cinta pada matahari itu.


"Aku mencintaimu, kau tahu?"

"Tentu aku tahu. Tapi apakah hanya cinta?"

"Kalau bukan cinta, apa lagi yang kau inginkan?"

"Dunia"

"Bagaimana dapat ku berikan dunia yang bukan milikku sendiri?"

"Jadi, berikanku duniamu."


Aku harap aku dapat memberikannya duniaku. Namun itu sesuatu yang tidak mungkin. Langkahku tidaklah sebebas angin. Aku juga bukanlah matahari, yang bersinar dan memberi cahaya kepada segenap kehidupan. Aku hanyalah pencuri. Yang licik mahu mencuri hatinya. Tapi sebelum itu, dia sudah terlebih dahulu mencuri hatiku.


Kutahu kutakkan slalu ada untukmu...

Disaat engkau merindukan diriku

Kutahu kutakkan bisa memberikanmu waktu

Yang panjang dalam hidupku...


Setiap malam yang ku lalui denganmu bagaikan syurga bagiku. Hanya dalam gelapnya malam aku datang padamu. Sungguh, aku merasa seperti pungguk yang rindukan bulan. Bersembunyi, dan cuma memendam perasaan cintaku padamu dalam gelapnya malam. Tapi, bila lagi kita akan dapat bertemu jika tidak dalam kegelapan? Namun, percayalah... janjiku tak akan pudar seiring pagi yang menjelang. Aku tetap mencintaimu.


Yakinlah bahwa engkau adalah cintaku...

Yang kucari selama ini

Dalam hidupku...

Dan hanya padamu kuberikan sisa cintaku

Yang panjang dalam hidupku...


Kegelapan menggangguku. Tapi hati nuraniku lebih mengganggu.


"Aku tak sanggup lagi."

"Kuatlah untukku"

"Lalu, siapa yang akan menguatkanku?"

"Cintaku"


Aku ingin memilikimu.
Namun, aku tak mampu.
Aku ingin berhenti mencintaimu.
Tapi maaf, aku juga tak mampu.


Kau pergi. Tapi aku ingin mengejarmu. Sanggupkah aku? Adakah aku dapat memberikan duniaku kepadamu? Mampukah aku putuskan rantai yang selama ini mengikatku? Sungguh, aku tak sanggup kehilanganmu.

Biarkan aku pergi.

Jangan pergi.

Biarkan aku memilikimu.


“Apakah kau akan pergi?”

“Apakah kau tidak lagi mencintaiku?”


"Aku mencintaimu. Lebih dari apapun."

"Meskipun tiada satu pun orang yang tahu"

"Aku mencintaimu sedalam-dalamnya hatiku."

"Meskipun kau adalah kekasih gelapku"




~ diolah dari lagu Ungu: Kekasih gelap~

Hati ini tiada lagi gejolak rasa
Hati ini diam tanpa kata
Hati ini kelu seribu bicara
Hati ini keliru dan sengsara

Hati ini tidak tahu apa yang mahu dirasa
Hati ini tidak tahu apa yang dirasa
Hati ini tidak tahu apa itu cinta
Hati ini tidak mahu tahu apa itu cinta

Hati ini diam dari kata
Hati ini diam dari belenggu jiwa
Hati ini diam dari cinta
Hati ini diam dari dia

Hati ini kosong tiada rasa
Hati ini kosong tiada cinta
Hati ini kosong...biarkan sahaja
Hati ini kosong...dan aku redha...

~ Kosong ~


[To write, you must be feeling something. But, I really don't feel anything now. So its kinda hard for me to write things like I normally do...huhu]




Hati ini dibiarkan sendiri
Kau kini mementingkan diri
Kau lupakanku hari demi hari
Bagaimana mungkin aku bisa berdiri

Hati ini makin suram
Kerana ia kini dipenuhi rasa geram
Kerana ia kini menyumpah dengan kata-kata haram
Hingga akhirnya ia kini hanya mampu diam

Hati ini kian perih
Sakitnya membuatkan aku hanya mampu merintih
Bergantinya hari cuma membuatkan hati ini sedih
Tiada lagi hati yang dipenuhi rasa kasih

Hati ini telah mati
Kerana kau yang terlalu kerap menyakiti
Kerana kau yang tak pernah mahu mengerti
Diriku dilayan bagaikan tiada erti

Hati ini akhirnya sengaja kubiarkan mati
Menunggu masa dihidupkan kembali
Oleh rasa cinta Illahi yang Maha Mengerti
Untuk mengubah hati ini kembali ke fitrahnya yang azali...


~ K.A.A ~

Did you forget
That I was even alive
Did you forget
Everything we ever had
Did you forget
Did you forget
About me


Did you regret
Ever standing by my side
Did you forget
What we were feeling inside
Now I’m left
To forget
About us


But somewhere we went wrong
We were once so strong
Our love is like a song
You can’t forget it


So now I guess
This is where we have to stand
Did you regret
Ever holding my hand
Never again
Please don’t forget
Don’t forget


We had it all
We were just about to fall
Even more in love
Than we were before
I won’t forget
I won’t forget
About us


But somewhere we went wrong
We were once so strong
Our love is like a song
You can’t forget it


Somewhere we went wrong
We were once so strong
Our love is like a song
You can’t forget it


Yeah, Oooho


And at last
All the pictures have been burned
And all the past
Is just a lesson that we’ve learned
I wont forget it
I wont forget
Us


But somewhere we went wrong
Our love is like a song
But you wont sing along
You’ve forgotten
About
Us
Don’t Forget.


~ Demi Lovato~


Kau mencintaiku...

...seperti bunga mencintai titah Tuhannya...

...tak pernah lelah menebar mekar aroma bahagia...

...tak pernah lelah meneduhkan gelisah nyala...


Kau mencintaiku...

...seperti matahari mencintai titah Tuhannya...

...tak pernah lelah memberi cerah cahaya...

...tak pernah lelah menghangatkan jiwa ~


~ petikan dari KCB 2 ~

You're on the phone
With your girlfriend
She's upset
She's going off about
Something that you said
'cause she doesn't get your humor
Like I do

I'm in the room
It's a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of music
She doesn't like
She'll never know your story
Like I do

But she wears short skirts
I wear t-shirts
She's cheer captain
And I'm on the bleachers
Dreaming about the day
When you wake up and find
That what you're looking for
Has been here the whole time

If you could see
That I'm the one
Who understands you
Been here all along
So why can't you
See you belong with me
You belong with me.

Walking the streets
With you and your worn out jeans
I can't help thinking
This is how it ought to be
Laughing on a park bench
Thinking to myself
Hey, isn't this easy?

And you've got a smile
That could light up this whole town
I haven't seen it in awhile
Since she brought you down
You say you're fine
I know you better than that
Hey what you doing
With a girl like that

She wears high heels
I wear sneakers
She's cheer captain
I'm on the bleachers
Dreaming about the day
When you wake up and find
That what you're looking for
Has been here the whole time

If you could see
That I'm the one
Who understands you
Been here all along
So why can't you
See you belong with me
Standing by and
Waiting at your backdoor
All this time
How could you not know
Baby
You belong with me
You belong with me.

[Instrumental]

Oh, I remember
You driving to my house
In the middle of the night
I'm the one who makes you laugh
When you know you're about to cry
And I know your favorite songs
And you tell me about your dreams
Think I know where you belong
Think I know it's with me

Can't you see
That I'm the one
Who understands you
Been here all along
So why can't you see?
You belong with me.

Have you ever thought
Just maybe
You belong with me?


~ Taylor Swift ~

Love this song...and the artist (。♥‿♥。)

Aku yang dilupakan
Atas apa yang aku lakukan
Usahaku bagaikan tiada dalam ingatan
Semuanya seperti tidak pernah kelihatan

Aku yang dilupakan
Makna diriku kau rendahkan
Penghargaan tidak lagi kau berikan
Kerana bagimu ada yang lain di fikiran

Aku yang dilupakan
Perasaanku tidak lagi kau endahkan
Pengorbananku cuma tinggal kenangan
Sungguh sadis caramu melupakan

Aku yang dilupakan
Tapi sebenarnya pernahkan aku berada dalam ingatan
Hadirku apakah kau benar-benar mahukan
Atau biarkan aku terus hilang dari pandangan

Ketika tinta suria dicoretkan pada kanvas malam
Sinar suria ibarat merekah dari kegelapan
Mencoretkan bait-bait kata dari jingganya sinaran
Berkumandangnya kalimah yang menggegar jiwa dan alam

Fajar menyinsing lalu pagi menerpa
Memukau dunia dengan sinaran jingga
Mewarnai dunia dengan kecerahan warna
Pandangan diluaskan, hati diringankan sama

Burung-burung berkicauan menyanyi lagu riang
Bersyukur kerana malam berganti siang
Bagaikan bertasbih memuji kebesaran yang Maha Kuasa
Bersujud kerana kagum atas kekuasaan yang Maha Esa

Saat teriknya suria mula menyengat
Hati jadi rimas, gelisah dan memberat
Mula menantikan tinta-tinta hitam untuk kembali mewarnai alam
Menghilangkan dari pandangan sang suria yang mula kejam

Di kala tinta-tinta hitam bagaikan tertumpah pada kanvas alam
Kecerahan hilang, yang tinggal hanyalah kelam yang suram
Tiada lagi sengatan sang suria, yang ada kini cuma dinginnya malam
Jiwa mula diselubungi kegelapan dan kesunyian yang mendalam

Akhirnya yang diinginkan adalah kembalinya sinaran sang suria
Mewarnai kembali kegelapan dengan warna-warna tinta
Kerana hati tak pernah merasa cukup dengan apa yang ada
Selalu goyah, berubah mengikut peredaran masa

Bila nanti tinta alam akhirnya tiada
Kanvasnya kosong, tiada penaungnya
Kebinasaanlah bagi manusia atas tamaknya rasa
Balasan Illahi atas rasa syukur yang tak pernah ada

Dan moga dengan taubat, alam ini akan kembali berwarna~




Isfahan Itu Aku (X)

Takbir subuh memecah kesunyian di pagi itu. Setiap bait dari kalimah-kalimah suci yang memuja kebesaran Illahi itu menerobos masuk, terus ke dalam hati Isfahan. Sungguh tersentuh hatinya pada ketika itu. Lebih-lebih lagi apabila mendengarkan suara muazzin yang merdu lagi penuh syahdu itu. Jiwa yang kosong terasa penuh dan hati yang mati seakan kembali bernyawa. Betapa dia mensyukuri usia yang dianugerahi Illahi itu. Usia yang membenarkan dirinya untuk mendengarkan seruan azan subuh itu sekali lagi. Isfahan memanjatkan kesyukuran ke hadrat yang Maha Esa. Betapa dia sangat bersyukur. Sangat.

Sesudah solat subuh, Isfahan duduk di balkoni menunggu terbitnya mentari pagi. Betapa indah pemandangan pada waktu itu. Terbitnya mentari di ufuk timur ketika itu kelihatan seolah-olah ia sedang sujud. Sujud kepada kebesaran yang Maha Esa. Begitu juga dengan dedaunan juga pokok-pokok yang tampak beralunan seakan-akan turut memuji kebesaran Illahi. Kercipan burung-burung di kala pagi itu, yang ditemani desiran angin lembut pula kedengaran bagaikan zikrullah. Betapa seluruh alam ketika itu bagaikan sedang memanjatkan kesyukuran ke hadrat tuhan yang Maha Esa, Allah Subhanahu wa ta'ala.

Isfahan jadi termenung. Sememangnya banyak perkara yang bermain di mindanya. Antara mengejar cinta manusiawi dengan mengejar cinta sejati milik Allah, dia keliru. Begitu lemah dirasakan dirinya. Sungguh lemah.

Sejujurnya dia masih teringatkan peristiwa lepas. Peristiwa di mana dia mengungkapkan isi hatinya. Peristiwa di mana dia ditolak bulat-bulat tanpa sebarang alasan yang munasabah. Peristiwa di mana dia mencuba sedaya upaya dan kemudiannya gagal. Peristiwa-peristiwa yang memang tidak seharusnya dia kenang. Ya, tidak harus sama sekali.

Seusai kejadian yang sudah itu, Isfahan solat Istikharah di waktu malamnya. Memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa. Memohon hidayah dari-Nya. Sungguh dia mahu keluar dari kekeliruan yang mencengkam hati dan fikirannya itu. Cengkaman yang kuat lagi menyakitkan. Hatinya jadi sebak hanya dengan mengingatinya.

Ya, solat itu memberikan petunjuk. Alhamdulillah. Tapi bukan dari mimpi. Sebaliknya daripada gerak hati yang sangat kuat. Isfahan kembali runsing. Adakah gerak hati ini petunjuk Allah? Atau cuma perasaannya yang terlalu kuat terhadap Insyirah. Sungguh dia tidak tahu.

"Haih." Isfahan mengeluh mematikan lamunannya. Dia kembali menghirup kopi yang sepertinya sudah hilang kehangatannya.

"Lama juga aku mengelamun." dia berbisik dalam hatinya sambil tersenyum.

Pagi itu Isfahan mengambil keputusan untuk berjoging. Barangkali dengan badan yang lebih cergas, otaknya mampu bertindak dengan lebih baik lagi. Insya-Allah. Dia berjalan menuju tempat di mana dia biasanya berjoging. Sambil menghirup udara segar yang sungguh menyamankan, sambil mendengarkan suara alam yang sungguh mendamaikan, sambil berjalan dengan otak yang dikosongkan, dia rasa tenang. Ya, sungguh tenang. Setenang bayi yang sedang tidur. Barangkali.

Isfahan kemudiannya mengemukakan soalan kepada teman jogingnya, Musyair. Sungguh dia mahu tahu tentang satu perkara ini.

" Mus, aku ada buat solat Istikharah dan darinya aku dapat petunjuk berupa gerak hati. Tapi bagaimana harus aku pastikan yang petunjuk itu memang datang dari Allah dan bukannya dari perasaan aku?"

Lama Musyair berfikir sebelum dia menjawab.

" Apa kau merasakan tanda-tanda nafsu dalam gerak hatimu? Jika tidak, ia datang dari Allah. Jika ya, ia datang dari dirimu sendiri yang mana ia mungkin hasil pengaruh syaitan. Tapi sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." jawab Musyair sambil tersenyum.

" Jangan risau, apa pun, Allah akan sentiasa menolong hamba-Nya. Jika kau ikhlas dan betul-betul berkehendak, pertolongan Allah pasti akan tiba untukmu." tambahnya lagi.

Isfahan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Tapi, wajah Insyirah kembali bermain-main di mindanya. Wajah yang membuatkan hatinya meronta. Membuatkan jiwanya liar. Membuatkan perasaannya berkecamuk. Ah, sungguh menyakitkan. Isfahan terus mengambil keputusan untuk pulang. Dia seperti tidak mampu berlama-lama lagi di situ.

Malam itu, Isfahan terfikir mahu menelefon Insyirah. Biasa. Dia hanya mahu bertanya khabar. Tidak elok rasanya kedua-dua pihak menyepikan diri sebegini. Dia rasa tidak sedap hati. Sebetulnya dia rimas akan situasi yang tegang seperti ini. Sangat rimas.

Tuut...tuut...tuut...tuut...

Panggilannya tidak diangkat.

Setelah penat dia mengumpulkan segala kekuatan dan keberanian untuk menelefon Insyirah, gadis itu tidak menjawabnya.Betapa dia rasa kecewa. Terasa seperti mendapat hinaan yang kejam. Dia sedih. Tapi tiada apa yang mampu dilakukannya. Dia hanya mampu bersabar. Ya, bersabar. Isfahan memujuk hatinya.

"Tidak mengapa. Aku ikhlas." bisik hati kecilnya tiba-tiba.

Dalam gelapnya malam yang sepi itu, dia cuba melelapkan matanya. Biar perasaannya bertamu di dunia lain. Dunia di mana yang tak mungkin boleh menjadi mungkin. Dunia di mana fantasi menjadi realiti. Dunia di mana hatinya akan tenang. Semoga Allah berikan ketenangan kepada dirinya. Amin.

"Ku mohon, lindungilah aku dengan selimut rahmat-Mu, Ya Allah." ucap Isfahan. Betapa dia perlukan kekuatan saat ini.

Semoga hari esok akan lebih cerah. Dan Insyirah berada dalam keadaan baik-baik sahaja. Pintanya.


Langit menghitam di ufuk barat
Petanda malam yang kian kelam
Menemani mata yang makin berat
Lalu dalam mimpi ia tenggelam...

Mimpi merungkaikan apa yang tersirat
Di kala meniti gelapnya malam yang suram
Agar diringankan hati yang sudah memberat
Mimpi bagaikan tempat melepaskan geram...

Sesungguhnya diri tak mampu mengubah yang tersurat
Betapa ia lemah dan hanya mampu diam
Dugaan ini terlalu berat, aku hampir tidak larat
Aku taubat...jadi ku perbanyakkan Qiam
Ya Allah, ringankanlah hidupku yang kian berat
Hanya padaMu ku memohon di setiap kelamnya malam
Dan semoga Kau membantu ku untuk lebih kuat.

Siapa Aku?

My photo
Sang penglipur lara dari dunia nyata yang terkadang lebih menggemari alam fantasi.

Duniaku Duniaku

Mari bercerita. Mari berimaginasi. Mari berfantasi. Mari berkongsi idea. Ya, mari!

Klik-klik =)

Hall of fame

Blog updates